IPJKS

Tentang IPJKS-IksanFitra

IPJKS DAN KERINDUAN KAMPUANG HALAMAN
(SEBUAH TESTIMONI ANAK RANTAU)
Oleh : IKHSAN FITRA

Kecanggihan teknologi saat ini telah mengantarkan kita pada dunia tanpa batas. Informasi dan segala macam ragam tersaji begitu cepat. Tak ada yang mampu menghalangi. Hanya bermodal paket internet, netizen bisa menulis atau mendokumentasikan apa saja lalu di “tempelkan” di akun media sosial. Semua menjalar bak air yang mengalir di saluran-saluran jejaring internet. Ya media sosial. Suatu system tempat mencurahkan perasaan dan pikiran yang sangat digilai umat manusia modern saat ini. Bahkan dengan produk canggih ini, setiap kejadian akan mudah diketahui oleh makhluk seantero dunia. Terbaru, bagaimana insiden seorang TNI memukul seorang anggota Polri yang menjadi viral di dunia maya. Insiden ini direkam oleh seorang pengendara lalu di upload ke media sosial. Video ini menyebar begitu cepat bak ombak menghantam tebing yang tak dapat dibendung. Berbagai media elektronik, cetak apalagi dunia maya mengabarkan peristiwa ini. Kepopuleran dua orang tersebut (Wira Sinaga/TNI dan Yoga Vernando/Polri) meningkat drastis dan mereka menjadi terkenal. Seperti mengikuti kepopuleran Norman Kamaru yang terkenal dengan lipsinc lagu cayya-cayya yang di populerkan Shah Rukh Khan. Bukankah ketenaran ini terjadi berkat jasa dunia maya?. Netizen bisa memanfaatkan fitur-fitur teknologi tersebut untuk merekam secara langsung suatu peristiwa tanpa menunggu seorang jurnalistik cetak maupun elektronik untuk meliput.

Sepertinya ini yang ditangkap oleh anak-anak Kuantan untuk memanfaatkan kecanggihan teknologi terhadap perkembangan tradisi budaya “PACU JALUR” sebagai tradisi turun termurun di daerah yang bernama Kabupaten Kuantan Singingi. Anak-anak Kuantan tersebut membuat grup yang menyampaikan informasi tentang pacu jalur. Menurut penulis, Grup pacu jalur yang sangat creative dan terbaik saat ini adalah grup Informasi Pacu Jalur Kuantan Singingi (IPJKS). Grup ini seakan bermetamorfosis menjadi media yang konsen mengkampanyekan atau corong informasi tentang budaya-budaya Kuantan Singingi meskipun pada mulanya penulis melihat grup ini hanya tempat berkumpulnya para maniak “pacu jalur” yang rata-rata berasal dari masyarakat Kuantan Singingi dan Indragiri Hulu. Baik peristiwa pembuatan jalur, menyampaikan “ranji” atau undian pacu jalur yang mengabarkan lawan yang akan dihadapi , hilir ke berapa (nomor urut), jalan sebelah mana sampai dengan prediksi-prediksi dan analisa terhadap kekuatan lawan. Namun seiring berjalannya waktu yang didukung dengan keahlian Sumber Daya Manusia_nya (admin) dibidang teknologi, admin selaku pengelola grup ini mampu membuat terobosan nan creative untuk memuaskan maniak pacu jalur. Seperti membuat video setiap perpacuan kemudian di upload ke youtube lalu dibagikan beberapa jam kemudian. Sehingga bagi yang ingin menyaksikan pertarungan jalurnya bisa melihat secara langsung termasuk anak rantau Kuantan dimanapun berada. Kemudian muncul Radio Streaming yang bisa didengarkan secara langsung jalannya perpacuan dan dikombinasikan dengan music dan lagu Kuansing termasuk calempong music tradisional yang hampir punah.

Manfaat ini sangat saya rasakan selaku anak rantau yang lahir di tanah hitam Kuantan. Saat mendengarkan radio secara langsung pada iven pacu jalur tingkat rayon di Lubuak Sobae-Baserah seakan hanyut dalam suanasa pertarungan sengit ketika jalur andalan bertarung menundukkan lawan-lawannya. Sang istri yang mendukung jalur Raja Laut sebagai kampung dia dilahirkan dan saya sendiri yang menjagokan Kahulu Jantan Danau Kompe sebagai tempat kelahiran tak bisa menahan kempang kempis jantung yang terpompa tak beraturan ketika dua jalur tersebut berpacu. Sepanas-panasnya dunia yang seakan menyengat kulit, seakan membeku dalam kedinginan sampai ke telapak kaki hanya karena mendengarkan ocehan komentator yang bilang jalur yang di unggulkan dalam posisi kalah lalu mampu menyamakan haluannya, unggul sementara kemudian dalam keadaan tertinggal. Inilah reaksi spontan sebagai anak kuantan yang mendukung jalur dari kampung halaman. Rasa memiliki dan sayang kampung yang sudah tertanam sejak kecil.

Seakan tak puas sampai disitu kemudian muncul lagi aplikasi adroid dengan nama IPJKS sehingga pacu jalur berada di genggaman dan anak-anak rantau seperti penulis bisa mendengarkan infomasi tentang pacu jalur secara langsung.

Pacu jalur merupakan suatu tradisi yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kuantan dan saat ini sudah mencapai usia 114 tahun. Bagi masyarakat Kuantan, pacu jalur merupakan tradisi yang sangat ditunggu-tunggu. Konon ceritanya pacu jalur bagi orang Kuantan dikenal istilah TAMBARU atau Tahun Baru. Bak musim pergantian tahun. Tahun tempat menghabiskan uang tabungan selama satu tahun, sebagai ajang tempat mencari jodoh atau tahun yang dinanti-nantikan orang perantauan untuk pulang ke kampung halaman. “Biar tak baliak hari rayo asal baliak pacu jaluar” (Biar tak pulang lebaran asal pulang saat pacu jalur). Begitu sakralnya pacu jalur bagi orang Kuantan.

Bagi kampung atau desa yang memiliki jalur (sampan yang berukuran 20-30 meter yang diisi oleh 50-60 pendayung), masyarakat menganggap bahwa keikutsertaan jalurnya merupakan utusan terbaik yang dilepas dengan puja-puja dan puji-pujian dengan harapan mampu berjuang di medan perang dengan membawa kemenangan. Dicari sang pawang yang terhebat, “palangkaan” yang dianggap membawa kebaikan, kebutuhan anak pacuan dipenuhi, jalur (sampan) di cat yang paling indah serta disiapkan nama terbaik. Bagi masyarakat yang tak ikut berpacu mereka akan mendukung dan membela jalurnya tersebut mati-matian. Bahkan siap bertaruh nyawa jika ada yang mengolok-olok atau ada keputusan dewan hakim yang merugikan jalurnya. Tak jarang terkadang ada pemacu dan masyarakat yang mengamuk dan terjadi bentrokan fisik karena hal-hal yang merugikan mereka.

Diibaratkan prajurit, pemacu (pendayung) adalah prajurit-prajurit terbaik kampung yang ditugaskan berperang di medan laga “gelanggang pacuan”. Misi yang disandang adalah untuk menjadi penguasa yang tak terkalahkan di “medan perang” dengan menjadi pemenang. Mengabarkan kepada seluruh masyarakat seantero kampung bahwa mereka membawa kemenangan dan mampu menundukkan lawan-lawan. Jika itu terjadi, masyarakat menyambut dengan euphoria puncak, berkonvoi-konvoi sambil membawa tonggol juara, kenduri dengan memotong hewan hadiah, berjoget dengan tradisi randai kuantan. Meluapkan kegembiraan dengan gelak tawa dan ucapan rasa syukur yang tiada henti. Apalagi bagi desa yang selama ini jalurnya tak pernah menjadi sang juara lalu tiba-tiba mampu menjadi “pendekar” terkuat yang tak mampu ditundukkan sang lawan. Tetapi bagi jalur yang kalah tak jarang terkadang berurai air mata menangisi kekalahan yang terlalu sakit untuk diratapi. Itulah tradisi pacu jalur yang bagi orang kuantan sudah mendarah daging.

Meskipun pacu jalur hanyalah sebuah sampan yang dipacukan di setiap tepian gelanggang pacuan yang bisa dikategorikan hanya iven olahraga tetapi bagi masyarakat, jalur merupakan symbol marwah kampung. Maka tak heran jika ada unsure magis dalam iven pacu jalur ini. Meskipun pada saat ini sudah mulai berkurang. Magis yang dimaksud adalah mulai dari menebang kayu jalur, membuat jalur, menurunkan jalur dari rumah/kandang ke sungai kuantan, mencabut undi untuk menentukan lawan, melepas anak pacuan dari tambatan ke pancang start selalu mengikutsertakan dukun atau sang pawang. Tak jarang terkadang ada anggapan bahwa kemenangan sang jalur menundukkan lawan tak terlepas dari peran sang pawang dalam mengawal jalur anak pacuan secara gaib.

Bagi orang kuantan yang berada di perantauan, saat tiba pelaksanaan pacu jalur merupakan musim-musim yang sangat menyakitkan. Terlalu rugi rasanya jika tidak menyaksikan secara langsung budaya tersebut, apalagi jalur-jalur andalan mereka selalu menjadi yang terbaik. Seakan berembuk hati berulam jantung melewatkan hari-hari tanpa sorakan mendukung jalur andalan di tepian sungai kuantan dimana gelanggang perpacuan terjadi. Sungguh tak sanggup rasanya. Tetapi dengan hadirnya komunitas IPJKS ini seakan hal tersebut bisa terobati meskipun tanah yang diinjak jauh dari kampung halaman.

Apa yang dilakukan pengelola (admin) IPJKS ini patut kita apresiasi termasuk oleh pemerintah daerah, provinsi maupun nasional. Apa yang mereka buat dan lakukan merupakan upaya nyata dalam rangka melestarikan budaya bangsa yang membutuhkan sentuhan teknologi. Di saat pergeseran dan tantangan yang dihadapi mereka ikut berkontribusi bagaimana iven ini semakin dikenal luas oleh masyarakat terutama dunia sehingga harapan masyarakat Kuansing agar pacu jalur ini diikuti oleh atlet berbagai belahan dunia bisa terwujud meskipun perlu upaya-upaya dan terobosan menarik minat mereka salah satunya bagaimana olahraga pacu jalur masuk pada nomor yang dipertandingkan seperti canoe, kayak, drawing atau dragon boat di cabang olahraga Dayung.

Hadirnya aplikasi adroid IPJKS di dunia maya hendaknya diikuti oleh inovasi-inovasi lain tentang budaya-budaya atau potensi-potensi daerah yang mesti dikunjungi atau layak untuk dikelola secara serius. Bukan tak mungkin aplikasi ini juga mampu mendatangkan nilai ekonomis yang bisa dimanfaatkan untuk mendatangkan rupiah sebagai usaha creative anak muda Kuansing. Belajar dari kasus jasa online yang menggunakan aplikasi sebagai usaha sampingan yang menggiurkan. Seperti traveloka, ojek online (motor/mobil), hotel, dll.

Disamping itu, pemerintah daerah harus belajar dari apa yang dilahirkan oleh anak-anak muda yang tergabung dalam IPJKS ini. Dalam menempatkan pembantu di pemerintahan khususnya para pejabat harus orang-orang yang mampu membuat terobosan dan melahirkan program-program yang berkualitas yang mudah diserap masyarakat. Bukan hanya menempatkan posisi untuk memenuhi struktur organisasi dan melakukan program copy paste dari pejabat sebelumnya tetapi berkontribusi nyata dalam meningkatkan pembangunan di wilayah Kuantan Singingi khususnya.

Diakhir tulisan ini saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tinggi kepada pengelola (admin) dan relawan IPJKS yang telah memberikan terobosan yang sangat bermanfaat bagi kelestarian budaya Kuantan khususnya pacu jalur dan teruslah berbenah untuk menyajikan berita-berita yang dapat mempersatukan kita dengan terus memperbaiki kelemahan-kelemahan lain termasuk mengelola berbagai ragam karakter anggota grup. Dan kepada pemerintah daerah saya mengusulkan untuk memberikan penghargaan kepada mereka yang telah berjasa dan membantu daerah dalam mengaungkan iven pacu jalur ini dan mungkin bisa diusulkan sebagai komunitas yang berkontribusi terhadap pelestarian budaya bangsa di tingkat nasional. Dan semoga apa yang kalian perbuat untuk orang banyak dibalas oleh Allah SWT. Penulis adalah anak rantau Kuantan yang menggilai iven pacu jalur yang tinggal di Pekanbaru-Provinsi Riau

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *