Artikel Budpar IPJKS

Pacu Jalur dan Randai Kuantan Masuk Dalam Daftar Warisan Budaya Tak Benda Indonesia

IPJKS.COM (Teluk Kuantan). Pacu Jalur dan Randai Kuantan merupakan sebuah tradisi yang turun termurun di Kabupaten Kuantan Singingi Riau. Pacu Jalur merupakan sebuah perlombaan mendayung di sungai dengan menggunakan sebuah perahu panjang yang terbuat dari kayu pohon. Panjang perahu ini bisa mencapai 25 hingga 40 meter dan lebar bagian tengah kir-kira 1,3 m s/d 1,5 m, dalam bahasa penduduk setempat, kata Jalur berarti Perahu. Setiap tahunnya yakni di bulan Agustus diadakan Festival Pacu Jalur sebagai sebuah acara budaya masyarakat tradisional Kabupaten Kuantan Singingi.

Randai dalam bahasa Kuantan Singingi juga sering dikaitkan dengan kata ‘berandai-andai’. Sebab dalam penampilan pertunjukan, seseorang sering tampil sebagai sosok di luar dari siapa dirinya. Seolah sedang berandai-andai menjadi diri orang lain. Pertunjukan seni randai menampilkan cerita yang disajikan dalam bentuk kisahan (narasi), cakapan (dialog), musik (instrumen dan vokal), serta tarian joget. Randai dipenuhi suasana ceria, gembira dan suka cita. Para pemainnya dibatasi dengan lingkaran yang kemudian dileburkan dengan penonton pada saat berjoged bersama.

Kabupaten Kuantan Singingi telah mengusulkan Pacu Jalur dalam daftar WBTB Indonesia pada tahun 2015 dan telah masuk dalam SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 186/M/2015 dengan nomor registrasi 85091/MPK.E/DO/2015 tanggal 20 Oktober 2015 dan ditahun 2016 Randai Kuantan juga telah masuk dalam daftar WBTB Indonesia dengan nomor registrasi 63370/MPK.E/KB/2016 tanggal 27 Oktober 2016.

Budaya takbenda juga dikenal istilah budaya hidup. Sejak Indonesia menjadi Negara Pihak Konvensi 2003 tentang pelindungan warisan budaya takbenda, sesuai pasal 11 dan 12 konvensi 2003 Indonesia diwajibkan untuk mengatur identifikasi dan inventarisasi warisan budaya takbenda Indonesia yang ada di wailayah Republik Indonesia dalam satu atau lebih inventaris yang dimuhtahirkan scara berkala.

Apa itu Registrasi Warisan Budaya Takbenda Nasional?

Registrasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencakup pendaftaran dan pencatatan unsur budaya menjadi warisan budaya masyarakat, kemudian dilakukan penetapan sebagai upaya pelindungannya. Hal ini merupakan bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda agar dapat memantapkan jatidiri bangsa, dan juga dapat memperjelas asal usul unsur budaya yang terdapat di wilayah Indonesia.

“Warisan budaya takbenda”, diwujudkan antara lain di bidang-bidang berikut:

  1. tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda;
  2. seni pertunjukan;
  3. adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
  4. pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
  5. kemahiran kerajinan tradisional.

Apa Tujuan Registrasi Warisan Budaya Takbenda Nasional?

Untuk mendokumentasi seluruh unsur budaya di Indonesia guna mempertahankan nilai dan makna dari unsur budaya tersebut demi keberadaannya bagi generasi penerus bangsa.

Mengapa Perlu didaftar dan dicatat?

Warisan budaya takbenda dicatat agar masyarakat mengetahui, mengenali, menyadari dan melestarikan warisan budaya takbenda Indonesia. Warisan Budaya takbenda penting bagi masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

Siapa yang harus mendaftar?

Seluruh masyarakat Indonesia. Pencatatan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan juga menjadi tanggung jawab seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) seperti komunitas pendukungnya dan masyarakat Indonesia.

Untuk melakukan identifikasi dan inventarisasi warisan budaya takbenda direktorat jenderal kebudayaan melalui direktorat warisan dan diplomasi budaya melakukan pecatatan,penetapan dan penominasian warisan budaya takbenda. Pencatatan dilakukan dengan bantuan 11 (sebelas) Balai Pelestarian Nilai Budaya yang ada di sekuruh Indonesia. Penetapan warisan budaya takbenda diusulkan oleh pemerintah daerah untuk tingkat nasional. Penominasian diusulkan oleh komunitas adat dan pemerintah daerah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan untuk diajukan ke UNESCO.

Hingga tahun 2017, 594 karya budaya tak benda telah terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Berikut adalah daftar rincian jumlah WBTB Indonesia yang telah ditetapkan per tahun.

Bagaimana Cara Melestarikan WBTB

Warisan Budaya Takbenda Indonesia merupakan bukti perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk melestarikannya adalah mengetahui, mengenali sehingga terbangun rasa memiliki dan menghargai warisan budaya tersebut. Seperti kata pepatah “Tak kenal maka tak sayang”. Selanjutnya pelestarian  terhadap warisan budaya takbenda  dapat dilakukan dalam bentuk pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan berarti tindakan yang bertujuan menjamin kelestarian warisan budaya, misalnya secara hukum atau melalui peraturan dan kebijakan terkait warisan budaya takbenda, dokumentasi, penelitian, dan pendidikan. Setelah itu, perlu dilakukan pengembangan yang dapat dilakukan melalui  pengemasan dan promosi.  Untuk lebih dapat dirasakan oleh masyarakat, waisan budaya takbenda  dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk seperti pemanfaatan pariwisata, sosial, keagamaan, ekonomi,  internalisasi nilai dan diplomasi budaya. Seluruh upaya tersebut harus tetap memegang prinsip pelestarian yang tidak merusan nilai-nilai  budaya masyarakat Indonesia.(IPJKS01)

Sumber: 

http://warisanbudayaindonesia.info/

http://kwriu.kemdikbud.go.id/info-budaya-indonesia/warisan-budaya-tak-benda-indonesia/

https://gln.kemdikbud.go.id/glnsite/formulir-warisan-budaya-tak-benda/

 

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *